Tukang Sensor Pohon di Lauran Patok Ongkos Mahal di Lokasi Lourdes, Diduga Tak Punya Rasa Peduli Tempat Suci

Lauran.Newtanimbar.com  – Kekecewaan mendalam menyelimuti warga yang sementara gotong royong melakukan penataan pada Situs Ziarah Keagamaan Katolik di Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Provinsi Maluku. Di tengah tingginya gelombang antusiasme masyarakat desa lauran yang menyumbangkan tenaga secara sukarela. Namun ada tindakan yang tidak terpuji dari salah seorang oknum warga desa yang sebagai penyedia jasa potong kayu (tukang sensor) justru memicu polemik hangat di tengah masyarakat desa, pada Senin (14/09/2026).

Kejadian ini bermula ketika salah satu warga Desa Lauran diminta secara resmi oleh Ketua Rukun setempat untuk melakukan pemotongan pohon kayu (sensor) di area hutan sekitar Lourdes. Hasil pemotongan kayu tersebut ditujukan murni untuk pembuatan beberapa lembar papan untuk konstruksi yang akan dipakai pada pengerjaan awal fondasi di Situs Suci Goa Lourdes Bunda Maria dan Goa Tuhan Yesus.

Namun, alih-alih memberikan sumbangsih atau keringanan harga demi pembangunan tempat ibadah, oknum tukang sensor tersebut secara kaku mematok ongkos jasa yang dinilai sangat fantastis juga memberatkan, yakni sebesar Rp. 1.000.000,- (Satu Juta Rupiah).

Padahal seluruh biaya operasional logistik di lapangan telah ditanggung sepenuhnya oleh Panitia Rukun Warga, mulai dari penyediaan bahan bakar minyak (bensin), oli mesin sensor, rokok, konsumsi makanan dan minuman, hingga fasilitas transportasi antar dan jemput pulang pergi ke lokasi pengerjaan di Lourdes, serta juga dibantu oleh sejumlah masyarakat Desa Lauran yang ikut serta dalam proses kerja bakti sosial terkait penebangan sejumlah pohon kayu yang berada di areal lokasi Lourdes Bunda Maria dan Goa Tuhan Yesus di Desa Lauran

“Kami sangat menyayangkan sikap tega dari oknum warga tersebut. Ini adalah proyek swadaya untuk membersihkan dan membangun tempat suci Bunda Maria yang kita gunakan bersama untuk sembahyang. Segala urusan operasional mesin dan makan minumnya sudah kita tanggung, tetapi dia tetap tega memeras kantong rukun dengan meminta uang tunai satu juta rupiah. Benar-benar minim rasa kepedulian terhadap gereja,”sesal salah seorang warga dengan nada kecewa kepada media ini.

Persoalan ini memicu perbincangan di akar rumput mengenai pentingnya rasa kebersamaan (spirit duan lolat) dalam menyukseskan pembenahan cagar budaya religi di Tanimbar. Warga berharap ke depannya, setiap elemen masyarakat di Desa Lauran dapat lebih mengedepankan ketulusan hati dan nilai gotong royong demi kelancaran pembangunan fasilitas rohani di Bumi Duan Lolat tanpa melulu bermotif komersial yang memberatkan kelompok masyarakat. (NT.02)